Halaman

Jumat, 30 Agustus 2013

Teknologi Biogas

1.  Pengertian

Biogas adalah gas  mudah  terbakar (flammable) yang dihasilkan dari  proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri anaerob (bakteri yang hidup dalam  kondisi  kedap  udara).  Pada umumnya semua  jenis  bahan organik  bisa diproses  untuk menghasilkan biogas,  namun  demikian  hanya  bahan  organik (padat, cair) homogen seperti kotoran dan urine (air kencing) hewan ternak yang cocok untuk sistem  biogas  sederhana.  Disamping   itu  juga sangat   mungkin menyatukan  saluran   pembuangan  di  kamar  mandi atau  WC  ke dalam sistem Biogas. Di daerah yang banyak industry pemrosesan makanan antara lain tahu, tempe, ikan  pindang atau brem bisa menyatukan      saluran limbahnya ke dalam sistem Biogas, sehingga  limbah industri tersebut tidak mencemari lingkungan di sekitarnya. Hal ini memungkinkan karena limbah industri tersebut diatas berasal dari bahan organik yang  homogen. Jenis bahan organik yang  diproses sangat mempengaruhi produktifitas system biogas disamping parameter-parameter  lain seperti temperature  digester, pH, tekanan dan kelembaban udara.

Salah satu cara menentukan bahan organik yang  sesuai untuk  menjadi bahan masukan sistem Bio-gas adalah dengan mengetahui perbandingan Karbon (C) dan  Nitrogen (N) atau disebut rasio C/N. Beberapa percobaan yang telah dilakukan oleh ISAT menunjukkan bahwa aktifitas metabolisme dari bakteri methanogenik akan optimal pada nilai rasio C/N sekitar 8-20.

Bahan organik dimasukkan ke dalam ruangan tertutup  kedap  udara (disebut Digester) sehingga bakteri anaerob akan membusukkan bahan organic tersebut yang kemudian menghasilkan gas (disebut Biogas). Biogas yang telah terkumpul  di dalam digester selanjutnya dialirkan melalui pipa penyalur gas menuju tabung penyimpan gas atau langsung ke lokasi penggunaannya.





2.  Pemanfaatan Biogas

Sebagai  Bahan  Bakar dan Pupuk
Manfaat energi biogas adalah sebagai pengganti bahan baker khususnya minyak tanah   dan   dipergunakan  untuk  memasak. Dalam skala besar, biogas dapat digunakan sebagai pembangkit energi listrik. Di samping itu, dari proses produksi biogas akan  dihasilkan sisa kotoran ternak yang dapat langsung dipergunakan sebagai pupuk organik pada tanaman/budidaya pertanian.

Limbah  biogas,  yaitu  kotoran  ternak  yang  telah  hilang  gasnya (slurry) merupakan pupuk organik yang sangat kaya akan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh  tanaman. Bahkan, unsur-unsur tertentu seperti protein, selulose, lignin, dan lain-lain tidak bias digantikan oleh pupuk kimia. Pupuk organik dari  biogas telah dicobakan pada  tanaman jagung, bawang merah, dan padi. Komposisi gas yang terdapat di dalam Biogas dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 1 : Komposisi gas yang terdapat dalam biogas

Jenis Gas Volume (%)
Methana (CH4) 40 – 70
Karbondioksida (CO2) 30 – 60
Hidrogen (H2) 0 – 1
Hidrogen Sulfida (H2S) 0 – 3
Sedangkan komponen biogas  untuk skala rumah tangga biasanya memiliki komposisi sebagai berikut :

 Tabel 2 : Komposisi gas yang terdapat dalam biogas untuk skala rumah tangga

Jenis Gas Volume (%)
Methana (CH4)

± 60 %
Karbondioksida (CO2) ± 38 %
O2, H2, & H2S
± 2 %

Nilai kalori dari 1 meter kubik Biogas sekitar 6.000 watt jam yang setara dengan setengah liter minyak diesel. Oleh karena itu Biogas sangat cocok digunakan sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan pengganti minyak  tanah, LPG, butana,  batubara, maupun bahan-bahan lain yang berasal dari fosil. Kesetaraan biogas dapat dilihat dari tabel berikut:

Tabel 3 : Biogas dibandingkan dengan bahan bakar lain

Keterangan Bahan bakar lain





1 m3 Biogas

Elpiji 0,46 kg
Minyak tanah 0,62 liter
Minyak solar 0,52 liter
Bensin 0,80 liter
Gas kota 1,50 m3
Kayu bakar 3,50 kg
Biogas dapat dipergunakan dengan cara yang sama seperti gas-gas mudah terbakar yang lain. Pembakaran biogas dilakukan dengan mencampurnya dengan sebagian oksigen (O2). Namun demikian, untuk mendapatkan  hasil pembakaran yang optimal, perlu dilakukan pra kondisi sebelum Biogas dibakar yaitu melalui proses pemurnian/penyaringan karena Biogas mengandung beberapa gas lain yang tidak menguntungkan. Sebagai salah satu contoh, kandungan gas Hidrogen Sulfida yang tinggi yang terdapat dalam Biogas jika dicampur dengan Oksigen dengan perbandingan 1:20, maka  akan menghasilkan gas yang sangat mudah meledak. Tetapi sejauh ini belum pernah dilaporkan terjadinya ledakan pada sistem Biogas sederhana.
Melestarikan alam dengan  Biogas

Biogas memberikan solusi terhadap masalah penyediaan energi dengan murah dan tidak mencemari lingkungan. Berdasarkan hasil temuan mahasiswa KKN (1995) dan Penelitian Kecamatan Rawan di Magetan (1995) di desa Plangkrongan, rata- rata disetiap rumah terdapat 1-3 ekor lembu karena  memelihara lembu merupakan pekerjaan kedua  setelah bertani. Setiap harinya rata-rata seekor lembu menghasilkan kotoran sebanyak 30  kg.  Jika  terdapat 2.000 ekor lembu,  maka setiap  hari akan terkumpul 60 ton kotoran.

Kotoran yang menggunung akan terbawa oleh air masuk ke dalam tanah atau  sungai yang kemudian mencemari air tanah dan air sungai. Kotoran lembu mengandung racun dan bakteri Colly yang membahayakan kesehatan manusia dan lingkungannya.

Pembakaran  bahan  bakar  fosil   menghasilkan   Karbon  dioksida (CO2) yang ikut  memberikan kontribusi bagi efek rumah kaca (green house effect) yang bermuara  pada   pemanasan  global   (global warming).  Biogas  memberikan perlawanan  terhadap efek  rumah  kaca melalui 3 cara, yaitu :

Biogas memberikan substitusi atau pengganti dari bahan bakar fosil untuk penerangan, kelistrikan, memasak dan pemanasan.
Methana   (CH4)   yang   dihasilkan   secara   alami   oleh   kotoran   yang menumpuk merupakan gas penyumbang terbesar pada efek rumah kaca, bahkan lebih besar dibandingkan CO2. Pembakaran Methana pada Biogas mengubahnya menjadi CO2  sehingga mengurangi jumlah Methana di udara.
Dengan lestarinya hutan, maka akan menyebabkan CO2  yang ada di udara akan diserap oleh hutan yang menghasilkan Oksigen yang melawan efek rumah kaca


Keuntungan Ekonomis dan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat

Keluarga-keluarga yang menggunakan Biogas sudah tidak membutuhkan pembelian  bahan bakar karena sudah bisa terpenuhi kebutuhannya dari kotoran ternak   yang  dipeliharanya.

Bagi  mereka yang bisanya mencari/memotong kayu bakar di hutan kini waktunya bisa dipergunakan untuk kegiatan yang memberikan nilai tambah ekonomis,  dengan  pekerjaan sambilan yang lain.

Kotoran ternak menjadi sangat berharga, oleh karena itu para petani akan rajin merawat ternaknya  sehingga  kondisi  kandang  menjadi bersih  dan kesehatan   ternak  menjadi lebih baik, pada akhirnya membawa keuntungan dengan penjualan  ternak yang lebih cepat dan berharga lebih tinggi. Keluarga petani  yang  biasanya  menggunakan pupuk  kimia  untuk  menanam,  kini  bisa menghemat biaya produksi pertaniannya karena sudah tersedia pupuk organik dalam jumlah yang memadai dan  kualitas  pupuk  yang  lebih  baik.

Aspek Sosio-Kultural penerapan teknologi biogas. Menerapkan teknologi baru kepada masyarakat desa merupakan suatu tantangan tersendiri akibat rendahnya latar belakang pendidikan, pengetahuan dan wawasan yang mereka miliki. Terlebih  lagi pada penerapan   teknologi biogas. Tidak pernah terbayangkan bahwa   kotoran  lembu  bisa  menghasilkan api. Selain  itu juga mereka merasa  jijik  terhadap makanan yang dimasak menggunakan Biogas. Di desa Plangkrongan, perlu  waktu 2 tahun hanya untuk membangun sebuah unit Biogas percontohan. Metode yang dipergunakan  untuk  mensosialisasikan Biogas adalah dengan memilih  sebuah  keluarga sebagai  Khalayak  Sasaran Antara  (KSA) yang  diharapkan  menjadi  pelopor dan bisa mengembangkan Biogas itu kepada Masyarakat sebagai Khalayak Sasarannya.

 Beberapa Negara yang Memanfaatkan Biogas

 Cina
Sejak tahun 1975 “biogas for every household”. Pada tahun 1992, 5 juta rumah tangga di China  menggunakan biogas. Reaktor biogas yang banyak digunakan adalah model sumur tembok dengan bahan baku kotoran ternak & manusia serta limbah pertanian.

India
Dikembangkan sejak tahun 1981 melalui “The ational Project on Biogas Development” oleh Departemen Sumber Energi non-Konvensional. Tahun 1999, 3 juta rumah tangga menggunakan biogas. Reaktor biogas yang digunakan model sumur  tembok  dan dengan drum serta dengan bahan baku kotoran ternak dan limbah pertanian.

Indonesia
Mulai  diperkenalkan pada tahun 1970-an, pada tahun  1981 melalui Proyek Pengembangan Biogas dengan dukungan dana dari FAO dibangun contoh instalasi biogas di beberapa  provinsi. Penggunaan biogas belum cukup berkembang luas antara lain disebabkan oleh karena masih relatif murahnya harga BBM  yang disubsidi, sementara teknologi yang diperkenalkan selama ini masih memerlukan biaya yang cukup tinggi karena berupa konstruksi beton dengan ukuran yang  cukup besar. Mulai tahun  2000-an  telah  dikembangkan  reaktor biogas skala kecil (rumah tangga) dengan konstruksi sederhana, terbuat dari plastik secara siap pasang (knockdown) dan dengan harga yang relatif murah

 3.  Reaktor Biogas

Rekayasa dan Pengujian Reaktor Biogas Skala Kelompok Tani Ternak Teknologi biogas telah berkembang sejak lama namun aplikasi penggunaannya sebagai sumber energi alternatif belum berkembang secara luas. Beberapa kendala antara lain yaitu kekurangan technical expertise, reactor biogas tidak berfungsi akibat bocor/kesalahan konstruksi, disain tidak user friendly, penanganan masih secara manual dan biaya  konstruksi yang mahal. Kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan reaktor biogas skala  kelompok tani ternak. Reaktor didesain dengan kapasitas 18 m3 untuk menampung kotoran sapi sebanyak 1 – 12 ekor. Berdasarkan perhitungan  disain, reaktor mampu mengahasilkan biogas sebanyak  6  m3/  hari.  Produksi  gas metana dipengaruhi  oleh  C/N  rasio  input (kotoran ternak), residence time, pH, suhu dan toxicity. Suhu digester berkisar 25–27oC dan  pH 7–7,8 menghasilkan biogas  dengan kandungan gas metana (CH4) sekitar 77%.

Penggunaan lampu penerangan diperlukan biogas 0.23 m3/jam dengan tekanan 45 mmH2O dan untuk kompor gas diperlukan biogas 0.30 m3/jam dengan tekanan 75 mmH2O. Analisa dampak lingkungan dari lumpur keluaran dari reaktor biogas menunjukkan  penurunan  COD  sebesar 90% dari  kondisi bahan awal dan pebandingan BOD/COD sebesar 0,37 lebih kecil dari kondisi normal limbah cair

BOD/COD=0,5. Analisa unsur utama N, P dan K menunjukkan hasil yang hampir sama dengan pupuk kompos.

Sumber : http://wsp-agro.com/tani/teknologi-biogas/
Image: diazscript.files.wordpress.com/2009/09/diazbiogas.jpg

Tidak ada komentar:

Posting Komentar