Halaman

Jumat, 30 Agustus 2013

Teknologi Biogas

1.  Pengertian

Biogas adalah gas  mudah  terbakar (flammable) yang dihasilkan dari  proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri anaerob (bakteri yang hidup dalam  kondisi  kedap  udara).  Pada umumnya semua  jenis  bahan organik  bisa diproses  untuk menghasilkan biogas,  namun  demikian  hanya  bahan  organik (padat, cair) homogen seperti kotoran dan urine (air kencing) hewan ternak yang cocok untuk sistem  biogas  sederhana.  Disamping   itu  juga sangat   mungkin menyatukan  saluran   pembuangan  di  kamar  mandi atau  WC  ke dalam sistem Biogas. Di daerah yang banyak industry pemrosesan makanan antara lain tahu, tempe, ikan  pindang atau brem bisa menyatukan      saluran limbahnya ke dalam sistem Biogas, sehingga  limbah industri tersebut tidak mencemari lingkungan di sekitarnya. Hal ini memungkinkan karena limbah industri tersebut diatas berasal dari bahan organik yang  homogen. Jenis bahan organik yang  diproses sangat mempengaruhi produktifitas system biogas disamping parameter-parameter  lain seperti temperature  digester, pH, tekanan dan kelembaban udara.

Salah satu cara menentukan bahan organik yang  sesuai untuk  menjadi bahan masukan sistem Bio-gas adalah dengan mengetahui perbandingan Karbon (C) dan  Nitrogen (N) atau disebut rasio C/N. Beberapa percobaan yang telah dilakukan oleh ISAT menunjukkan bahwa aktifitas metabolisme dari bakteri methanogenik akan optimal pada nilai rasio C/N sekitar 8-20.

Bahan organik dimasukkan ke dalam ruangan tertutup  kedap  udara (disebut Digester) sehingga bakteri anaerob akan membusukkan bahan organic tersebut yang kemudian menghasilkan gas (disebut Biogas). Biogas yang telah terkumpul  di dalam digester selanjutnya dialirkan melalui pipa penyalur gas menuju tabung penyimpan gas atau langsung ke lokasi penggunaannya.





2.  Pemanfaatan Biogas

Sebagai  Bahan  Bakar dan Pupuk
Manfaat energi biogas adalah sebagai pengganti bahan baker khususnya minyak tanah   dan   dipergunakan  untuk  memasak. Dalam skala besar, biogas dapat digunakan sebagai pembangkit energi listrik. Di samping itu, dari proses produksi biogas akan  dihasilkan sisa kotoran ternak yang dapat langsung dipergunakan sebagai pupuk organik pada tanaman/budidaya pertanian.

Limbah  biogas,  yaitu  kotoran  ternak  yang  telah  hilang  gasnya (slurry) merupakan pupuk organik yang sangat kaya akan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh  tanaman. Bahkan, unsur-unsur tertentu seperti protein, selulose, lignin, dan lain-lain tidak bias digantikan oleh pupuk kimia. Pupuk organik dari  biogas telah dicobakan pada  tanaman jagung, bawang merah, dan padi. Komposisi gas yang terdapat di dalam Biogas dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 1 : Komposisi gas yang terdapat dalam biogas

Jenis Gas Volume (%)
Methana (CH4) 40 – 70
Karbondioksida (CO2) 30 – 60
Hidrogen (H2) 0 – 1
Hidrogen Sulfida (H2S) 0 – 3
Sedangkan komponen biogas  untuk skala rumah tangga biasanya memiliki komposisi sebagai berikut :

 Tabel 2 : Komposisi gas yang terdapat dalam biogas untuk skala rumah tangga

Jenis Gas Volume (%)
Methana (CH4)

± 60 %
Karbondioksida (CO2) ± 38 %
O2, H2, & H2S
± 2 %

Nilai kalori dari 1 meter kubik Biogas sekitar 6.000 watt jam yang setara dengan setengah liter minyak diesel. Oleh karena itu Biogas sangat cocok digunakan sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan pengganti minyak  tanah, LPG, butana,  batubara, maupun bahan-bahan lain yang berasal dari fosil. Kesetaraan biogas dapat dilihat dari tabel berikut:

Tabel 3 : Biogas dibandingkan dengan bahan bakar lain

Keterangan Bahan bakar lain





1 m3 Biogas

Elpiji 0,46 kg
Minyak tanah 0,62 liter
Minyak solar 0,52 liter
Bensin 0,80 liter
Gas kota 1,50 m3
Kayu bakar 3,50 kg
Biogas dapat dipergunakan dengan cara yang sama seperti gas-gas mudah terbakar yang lain. Pembakaran biogas dilakukan dengan mencampurnya dengan sebagian oksigen (O2). Namun demikian, untuk mendapatkan  hasil pembakaran yang optimal, perlu dilakukan pra kondisi sebelum Biogas dibakar yaitu melalui proses pemurnian/penyaringan karena Biogas mengandung beberapa gas lain yang tidak menguntungkan. Sebagai salah satu contoh, kandungan gas Hidrogen Sulfida yang tinggi yang terdapat dalam Biogas jika dicampur dengan Oksigen dengan perbandingan 1:20, maka  akan menghasilkan gas yang sangat mudah meledak. Tetapi sejauh ini belum pernah dilaporkan terjadinya ledakan pada sistem Biogas sederhana.
Melestarikan alam dengan  Biogas

Biogas memberikan solusi terhadap masalah penyediaan energi dengan murah dan tidak mencemari lingkungan. Berdasarkan hasil temuan mahasiswa KKN (1995) dan Penelitian Kecamatan Rawan di Magetan (1995) di desa Plangkrongan, rata- rata disetiap rumah terdapat 1-3 ekor lembu karena  memelihara lembu merupakan pekerjaan kedua  setelah bertani. Setiap harinya rata-rata seekor lembu menghasilkan kotoran sebanyak 30  kg.  Jika  terdapat 2.000 ekor lembu,  maka setiap  hari akan terkumpul 60 ton kotoran.

Kotoran yang menggunung akan terbawa oleh air masuk ke dalam tanah atau  sungai yang kemudian mencemari air tanah dan air sungai. Kotoran lembu mengandung racun dan bakteri Colly yang membahayakan kesehatan manusia dan lingkungannya.

Pembakaran  bahan  bakar  fosil   menghasilkan   Karbon  dioksida (CO2) yang ikut  memberikan kontribusi bagi efek rumah kaca (green house effect) yang bermuara  pada   pemanasan  global   (global warming).  Biogas  memberikan perlawanan  terhadap efek  rumah  kaca melalui 3 cara, yaitu :

Biogas memberikan substitusi atau pengganti dari bahan bakar fosil untuk penerangan, kelistrikan, memasak dan pemanasan.
Methana   (CH4)   yang   dihasilkan   secara   alami   oleh   kotoran   yang menumpuk merupakan gas penyumbang terbesar pada efek rumah kaca, bahkan lebih besar dibandingkan CO2. Pembakaran Methana pada Biogas mengubahnya menjadi CO2  sehingga mengurangi jumlah Methana di udara.
Dengan lestarinya hutan, maka akan menyebabkan CO2  yang ada di udara akan diserap oleh hutan yang menghasilkan Oksigen yang melawan efek rumah kaca


Keuntungan Ekonomis dan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat

Keluarga-keluarga yang menggunakan Biogas sudah tidak membutuhkan pembelian  bahan bakar karena sudah bisa terpenuhi kebutuhannya dari kotoran ternak   yang  dipeliharanya.

Bagi  mereka yang bisanya mencari/memotong kayu bakar di hutan kini waktunya bisa dipergunakan untuk kegiatan yang memberikan nilai tambah ekonomis,  dengan  pekerjaan sambilan yang lain.

Kotoran ternak menjadi sangat berharga, oleh karena itu para petani akan rajin merawat ternaknya  sehingga  kondisi  kandang  menjadi bersih  dan kesehatan   ternak  menjadi lebih baik, pada akhirnya membawa keuntungan dengan penjualan  ternak yang lebih cepat dan berharga lebih tinggi. Keluarga petani  yang  biasanya  menggunakan pupuk  kimia  untuk  menanam,  kini  bisa menghemat biaya produksi pertaniannya karena sudah tersedia pupuk organik dalam jumlah yang memadai dan  kualitas  pupuk  yang  lebih  baik.

Aspek Sosio-Kultural penerapan teknologi biogas. Menerapkan teknologi baru kepada masyarakat desa merupakan suatu tantangan tersendiri akibat rendahnya latar belakang pendidikan, pengetahuan dan wawasan yang mereka miliki. Terlebih  lagi pada penerapan   teknologi biogas. Tidak pernah terbayangkan bahwa   kotoran  lembu  bisa  menghasilkan api. Selain  itu juga mereka merasa  jijik  terhadap makanan yang dimasak menggunakan Biogas. Di desa Plangkrongan, perlu  waktu 2 tahun hanya untuk membangun sebuah unit Biogas percontohan. Metode yang dipergunakan  untuk  mensosialisasikan Biogas adalah dengan memilih  sebuah  keluarga sebagai  Khalayak  Sasaran Antara  (KSA) yang  diharapkan  menjadi  pelopor dan bisa mengembangkan Biogas itu kepada Masyarakat sebagai Khalayak Sasarannya.

 Beberapa Negara yang Memanfaatkan Biogas

 Cina
Sejak tahun 1975 “biogas for every household”. Pada tahun 1992, 5 juta rumah tangga di China  menggunakan biogas. Reaktor biogas yang banyak digunakan adalah model sumur tembok dengan bahan baku kotoran ternak & manusia serta limbah pertanian.

India
Dikembangkan sejak tahun 1981 melalui “The ational Project on Biogas Development” oleh Departemen Sumber Energi non-Konvensional. Tahun 1999, 3 juta rumah tangga menggunakan biogas. Reaktor biogas yang digunakan model sumur  tembok  dan dengan drum serta dengan bahan baku kotoran ternak dan limbah pertanian.

Indonesia
Mulai  diperkenalkan pada tahun 1970-an, pada tahun  1981 melalui Proyek Pengembangan Biogas dengan dukungan dana dari FAO dibangun contoh instalasi biogas di beberapa  provinsi. Penggunaan biogas belum cukup berkembang luas antara lain disebabkan oleh karena masih relatif murahnya harga BBM  yang disubsidi, sementara teknologi yang diperkenalkan selama ini masih memerlukan biaya yang cukup tinggi karena berupa konstruksi beton dengan ukuran yang  cukup besar. Mulai tahun  2000-an  telah  dikembangkan  reaktor biogas skala kecil (rumah tangga) dengan konstruksi sederhana, terbuat dari plastik secara siap pasang (knockdown) dan dengan harga yang relatif murah

 3.  Reaktor Biogas

Rekayasa dan Pengujian Reaktor Biogas Skala Kelompok Tani Ternak Teknologi biogas telah berkembang sejak lama namun aplikasi penggunaannya sebagai sumber energi alternatif belum berkembang secara luas. Beberapa kendala antara lain yaitu kekurangan technical expertise, reactor biogas tidak berfungsi akibat bocor/kesalahan konstruksi, disain tidak user friendly, penanganan masih secara manual dan biaya  konstruksi yang mahal. Kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan reaktor biogas skala  kelompok tani ternak. Reaktor didesain dengan kapasitas 18 m3 untuk menampung kotoran sapi sebanyak 1 – 12 ekor. Berdasarkan perhitungan  disain, reaktor mampu mengahasilkan biogas sebanyak  6  m3/  hari.  Produksi  gas metana dipengaruhi  oleh  C/N  rasio  input (kotoran ternak), residence time, pH, suhu dan toxicity. Suhu digester berkisar 25–27oC dan  pH 7–7,8 menghasilkan biogas  dengan kandungan gas metana (CH4) sekitar 77%.

Penggunaan lampu penerangan diperlukan biogas 0.23 m3/jam dengan tekanan 45 mmH2O dan untuk kompor gas diperlukan biogas 0.30 m3/jam dengan tekanan 75 mmH2O. Analisa dampak lingkungan dari lumpur keluaran dari reaktor biogas menunjukkan  penurunan  COD  sebesar 90% dari  kondisi bahan awal dan pebandingan BOD/COD sebesar 0,37 lebih kecil dari kondisi normal limbah cair

BOD/COD=0,5. Analisa unsur utama N, P dan K menunjukkan hasil yang hampir sama dengan pupuk kompos.

Sumber : http://wsp-agro.com/tani/teknologi-biogas/
Image: diazscript.files.wordpress.com/2009/09/diazbiogas.jpg

Pelatihan Dan Bimbingan Pengoperasian Teknologi Peternakan Tepat Guna











Senin, 26 Agustus 2013

Definisi Ekologi Dan Konsep Ekologi Hewan dan Tumbuhan

Secara umum Ekologi sebagai salah satu cabang ilmu biologi yang mempelajari interaksi atau hubungan pengaruh mempengaruhi dan saling ketergantungan antara organisme dengan lingkungannya baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap kehidupan makhluk hidup itu. Lingkungan tersebut artinya segala sesuatu yang ada di sekitar makhluk hidup yaitu lingkungan biotik maupun abiotik.

Hal-hal yang dihadapi dalam ekologi sebagai suatu ilmu adalah organisme, kehadirannya dan tingkat kelimpahannya di suatu tempat serta faktor-faktor dan proses-proses penyebabnya. Dengan demikian, definisi-definisi tersebut jika dihubungkan dengan ekologi hewan dapat disimpulkan bahwa Ekologi Hewan adalah suatu cabang biologi yang khusus mempelajari interaksi-interaksi antara hewan dengan lingkungan biotic dan abiotik secara langsung maupun tidak langsung meliputi sebaran (distribusi) maupun tingkat kelimpahan hewan tersebut.

Sasaran utama ekologi hewan adalah pemahaman mengenai aspek-aspek dasar yang melandasi kinerja hewan-hewan sebagai individu, populasi, komunitas dan ekosistem yang ditempatinya, meliputi pengenalan pola proses interaksi serta faktor-faktor penting yang menyebabkan keberhasilan maupun ketidakberhasilan organisme-organisme dan ekosistem-ekosistem itu dalam mempertahankan keberadaannya. Berbagai faktor dan proses ini merupakan informasi yang dapat dijadikan dasar dalam menyusun permodelan, peramalan dan penerapannya bagi kepentingan manusia, seperti; habitat, distribusi dan kelimpahannya, makanannya, perilaku (behavior) dan lain-lain.

Setelah mempelajari dan memahami hal-hal tersebut, maka pengetahuan ini dapat kita manfaatkan untuk misalnya, memprediksi kelimpahannya dan menganalisis keadaannya serta peranannya dalam ekosistem, menjaga kelestariannya serta kegiatan lainnya yang menyangkut keberadaan hewan tersebut. Sebagai contoh, kita mempelajari salah satu jenis hewan mulai dari habitatnya di alam, distribusi dan kelimpahannya, makanannya, prilakunya, dan lain-lain. Setelah semua dipahami dengan pengamatan dan penelitian yang cermat dan teliti, maka pengetahuan itu dapat kita manfaatkan misalnya dalam menjaga kelestariannya di alam dengan menjaga keutuhan lingkungan, habitat alaminya,memprediksi kelimpahan populasinya kelak, menganalisis perannya dalam ekosistem, membudidayakannya serta kegiatan lainnya dengan mengoptimalkan kondisi lingkungannya menyerupai habitat aslinya.

Adapun ruang lingkup ekologi hewan dapat dibagi dalam 2 bagian, yaitu; Synekologi dan Autekologi. 

> Synekologi adalah materi bahasan dalam kajian atau penelitiannya ialah komunitas dengan berbagai interaksi antar populasi yang terjadi dalam komunitas tersebut. Contohnya; mempelajari atau meneliti tentang distribusi dan kelimpahan jenis ikan tertentu di daerah pasang surut. 
> Autekologi adalah kajian atau penelitian tentang species, yaitu mengenai aspek-aspek ekologi dari individu-individu atau populasi suatu species hewan. Contohnya adalah meneliti atau mempelajari tentang seluk beluk kehidupan lalat buah (Drosophila sp.), mulai dari habitat, makanan, fekunditas, reproduksi, perilaku, respond an lain-lain.

Menurut Ibkar-Kramadibrata (1992) dan Sucipta (1993), secara garis besar pokok bahasan dalam ekologi hewan mencakup hal berikut ini;
a. Masalah distribusi dan kelimpahan populasi hewan secara local dan regional, mulai tingkat relung ekologi, microhabitat dan habitat, komunitas sampai biogeografi atau penyebaran hewan di muka bumi.
b. Masalah pengaturan fisiologis, respon serta adaptasi structural maupun perilaku terhadap perubahan lingkungan.
c. Perilaku dan aktivitas hewan dalam habitatnya.
d. Perubahan-perubahan secara berkala (harian, musiman, tahunan dsb) dari kehadiran, aktivitas dan kelimpahan populasi hewan.
e. Dinamika pop[ulasi dan komunitas serta pola interaksi-interaksi hewan dalam populasi dan komunitas.
f. Pemisahan-pemisahan relung ekologi, species dan ekologi evolusioner.
g. Masalah produktivitas sekunder dan ekoenergetika.
h. Ekologi sistem dan permodelan.

Dengan demikian ruang lingkup Ekologi Hewan meliputi obyek kajian individu/organisme, populasi, komunitas sampai ekosistem tentang distribusi dan kelimpahan, adaptasi dan perilaku, habitat dan relung, produktivitas sekunder, sistem dan permodelan ekologi.

Peranan Ekologi Bagi Manusia
Manusia adalah organisme heterotrof di bumi. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju menyebabkan manusia mengeksplorasi, mengolah dan memanfaatkan segala sesuatu yang ada di lingkungannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga dengan mudah mengubah kondisi lingkungannya sesuai keinginannya. Dengan keberhasilannya ini dengan mudah menyebabkan laju peningkatan populasi manusia yang relative tinggi (2%) pertahun.

Makin meningkatnya pemanfaatan sumberdaya yang diperlukan manusia telah menyebabkan makin menciutnya luas lingkungan alami dan makin bertambahnya lingkungan buatan. Akibat kegiatan manusia tersebut adalah pencemaran lingkungan oleh limbah buangan industri, kelangkan dan kepunahan species berbagaim organisme, terjadinya perubahan pola cuaca maupun iklim, semakin lebarnya lubang ozon, timbulnya berbagai jenis penyakit yang berbahaya dan lain-lain. 

Manusia kini dihadapkan pada 2 tantangan, yaitu;
1) menjaga kelestarian ketersediaan sumberdaya,
2) memelihara kondisi lingkungannya.

Menghadapi kedua tantangan tersebut, ekologi sangat berperan, misalnya penelitian-penelitian yang menghasilkan pemahaman mengenai berbagai aspek ekologi dari suatu populasi, komunitas ataupun ekosistem sehingga faktor-faktor penting dapat diketahui dengan tepat serta menghasilkan peramalan yang lebih akkurat. Hal ini dapat mendukung upaya-upaya yang akan dilakukan manusia, karena adanya acuan yang lebih baik untuk mencegah terjadinya perubahan-perubahan maupun kerusakan yang dapat merugikan kondisi lingkungan serta menjaga kesinambungan ketersediaan sumberdaya agar lestari dan pemanfaatannya dapat berkelanjutan.

Ekologi hewan bagi manusia cukup penting artinya dalam memberi nilai-nilai terapan dalam kehidupan manusia. Manfaat tersebut terutama menyangkut masalah-masalah pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, kesehatan, serta pengolahan dan konservasi satwa liar. Kisaran toleransi dan faktor-faktor pembatas telah banyak diterapkan dalam bidang-bidang tersebut. Konsep-konsep tersebut juga telah melandasi penanganan berbagai masalah seperti pengendalian hama dan penyakit, penggunaan berbagai species hewan tertentu sebagai indicator menunjukkan terjadinya perubahan kondisi lingkungan, hubungan predator mangsa dan parasitoid – inang, vector penyebar penyakit, pengelolaan dan upaya-upaya konservasi satwa liar yang bersifat insitu (pemeliharaan di habitat aslinya) maupun exsitu ( pemeliharaan di lingkungan buatan yang menyerupai habitat aslinya) dan lain-lain. Banyak masalah-masalah yang terpecahkan dengan mempelajari ekologi hewan yang senantiasa berlandaskan pada konsep efisiensi ekologi. 

Permodelan dan Pendekatan dalam Ekologi
Permodelan ekologi disusun dalam menghadapi berbagai kondisi alam atau lingkungan yang terus menerus berubah atau dinamis. Dalam hal ini manusia dituntut dapat membuat penjelasan terhadap fenomena-fenomena alam untuk memperoleh manfaat bagi kepentingan hidupnya maupun meramalkan kejadian yang mungkin akan terjadi guna menghindari efek buruknya bagi manusia.Untuk dapat memenuhi tuntutan tersebut diperlukan acuan dan peramalan yang lebih baik dan tepat. Hasil studi tersebut dibuat dalam bentuk permodelan ekologi. Penyusunannya didukung oleh hasil-hasil penelitian ekologi yang memberikan informasi kuantitatif dan pengelolaan datanya banyak dibantu oleh teknik-teknik computer.

Model Ekologi pada dasarnya adalah suatu formulasi matematik sebagai bentuk penerjemahan fenomena ekologi yang sebenarnya dan telah disederhanakan. Jumlah variable dalam suatu model lebih rendah dari yang sebenarnya, karena yang ditampilkan hanya faktor-faktor dan proses kuncinya saja, yaitu yang paling penting serta paling menentukan. Informasi ini didapatkan dari hasil sejumlah penelitian kuantitatif yang bersifat deskriptif maupunh eksperimental di lapangan maupun di laboratorium.

Permodelan ekologi pada dasarnya adalah suatu formulasi matematik sebagai bentuk penerjemahan fenomena ekologp yang sebenarnya dan telah disempurnakan.

Pendekatan dalam ekologi dapat secara laboratories, lapangan dan matematik. Dalam ekologi hewan salah satu kendala yang sulit adalah pengukuran, metode dan teknik pengamatan. Hal ini disebabkan oleh sifat hewan yang senantiasa bergerak dan berpindah-pindah baik secara liar maupun jinak. Misalnya menyangkut penentuan kelimpahan dan perilaku hewan yang diteliti, ukuran tubuh mulai dari milimikron sampai yang besar dan tinggi, stadia perkembangan, kecepatan dan daya gerak yang berbeda-beda, lingkungan yang ditempati juga berbeda-beda seperti; habitat daratan, perairan tawar ataupun laut serta keunikan dan kespecifikan perilaku hidupnya termasuk aktivitasnya dalam sehari.
Metode dan teknik penelitian bukan saja ditentukan oleh hal-hal tersebut di atas, tetapi hal lain yang sangat penting adalah tujuan, sasaran dan manfaat dari penelitian itu. Penelitian ekologi hewan yang bersifat deskriptif ataupun eksperimental dengan data kuantitatif memerlukan desain (rancangan), prosedur kerja serta pengolahan data secara statistik.

Penelitian eksperimen, pada dasarnya melibatkan 2 komponen atau perangkat obyek yang diteliti, yakni; perangkat eksperimen (perlakuan) dan control. Perangkat control merupakan suatu perangkat obyek yang diamati dan kondisinya serupa benar dengan perangkat eksperimen, kecuali ada hal-hal tertentu merupakan faktor atau proses yang diteliti atau yang diberikan sebagai perlakuan.

Pada umumnya penelitian eksperimen dilakukan di dalam laboratorium yang kondisinya sangat berbeda dengan kondisi di lingkungan alami atau kondisi habitat alami yang ditempati hewan yang diteliti. Kondisi lingkungan dalam suatu penelitian laboratorium merupakan kondisi yang dapat dikendalikan oleh peneliti, misalnya dibuat sangat berbeda dalam satu atau lebih faktor lingkungan dibandingkan dengan kondisi lingkungan alami atau dibuat sedemikian rupa yang sangat mirip dengan kondisi lingkungan alami.

Aplikasi Konsep Ekologi Hewan
Dalam perkembangannya ekologi telah mengalami diversivikasi dengan lahirnya cabang-cabang ilmu ekologi lainnya yang lebih spesifik, dengan materi yang terbatas, khusus dan mendalam yang didasarkan atas kelompok organisme, misalnya; Ekologi Tumbuhan, Ekologi hewan, Ekologi Parasit, Ekologi Gulma, Ekologi Serangga, ekologi Burung dan lainnya.

Ekologi Hewan, bahasannya memerlukan pemahaman mengenai aspek-aspek biologi lainnya juga menyangkut matematika dan statistika. Sebenarnya konsep, asas ataupun generalisasi dalam ekologi hewan telah banyak memberikan nilai-nilai terapan yang cukup dalam kehidupan manusia sehari-hari, terutama dalam bidang-bidang pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, kesehata dan pengolahan maupun konservasi satwa liar. Penerapan ekologi makin penting dengan semakin diperlukannya upaya-upaya manusia dalam memelihara ketersediaan sumberdaya serta kualitas lingkungan hidup yang berkesinambungan.

Dalam bidang pertanian, perkebunan dan peternakan, konsep kisaran toleransi dan faktor pembatas serta dalam masalah pengendalian populasi hama dan penyakit (Biological Control). Dengan konsep ekologi hewan juga telah melandasi penggunaan berbagai species hewan tertentu sebagai species indicator yang menunjukkan terjadinya perubahan kondisi lingkungan, sudah tercemar atau belum. Konsep lain dalam bidang pertanian dan kesehatan adalah hubungan predator mangsa dan parasitoid inang. Dalam upaya meningkatkan hasil produk ikan maupun ternak, pengelolaan satwa liar baik yang bersifat insitu (pemeliharaan di habitat aslinya) maupun exsitu (pemeliharaan di lingkungan buatan) seluruhnya berazaskan dan berlandaskan efisiensi ekologi dan azas-azas ekologi.

Rangkuman:
1. Ekologi adalah ilmu yang mempelajari tentang hubungan interaksi makhluk hidup dengan lingkungannya.
2. Ekologi hewan adalah cabang biologi yang khusus mempelajari interaksi antara hewan dengan lingkungannya yang menentukan sebaran (distribusi) dan kemelimpahan hewan-hewan tersebut.
3. Sasaran utama ekologi hewan adalah pemahaman mengenai aspek-aspek dasar yang melanda kinerja hewan-hewan meliputi individu, populasi, komunitas maupun sistem ekologisnya, guna menemukan proses dan mekanisme kunci untuk menyusun permodelan yang akan dipakai dalam peramalan.
4. Permodelan ekologi pada dasarnya adalah suatu formulasi matematik sebagai bentuk penerjemahan fenomena ekologi yang telah disederhanakan.
5. Ruang lingkup ekologi hewan meliputi kajian individu/organisme, populasi, komunitas, dan ekosistem tentang distribusi dan kemelimpahan, adaptasi dan perilaku, habitat dan relung, produktivitas, sistem dan permodelan ekologi.
6. Pendekatan dalam ekologi hewan dapat secara laboratories dan matematik.
7. Aplikasi penerapan ekologi hewan banyak dimanfaatkan dalam bidang pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan dan konservasi satwa liar.

Sumber : http://layartekno.blogspot.com/2012/10/definisi-ekologi-dan-konsep-ekologi.html

Sabtu, 24 Agustus 2013

Pertemuan Ketiga : Pelatihan membuat Kompos Cair

Kali ini pada tanggal 23 Agustus 2013, Taruna tani mendapat kesempatan belajar membuat kompos cair yang di bina oleh PPL Tigapanah dan Ketua JKPE.
Dari pelatihan ini diharapkan taruna tani sebagai generasi muda pertanian Tigapanah mampu memproduksi kompos cair sebagai nutrisi tanaman, juga memperbaiki struktur tanah dan mampu mengurangi kerusakan lingkungan akibat pemakaian pupuk dan obat obatan kimia yang berlebihan. Hal ini merupakan salah satu sistem Pertanian Ekologis. 
Pertanian Ekologis (PE) merupakan sistem budidaya tanaman yang berpihak kepada kelestarian lingkungan hidup serta kesehatan konsumennya.  Fitur utama dari pertanian ekologis termasuk mempertahankan kesuburan tanah melalui tindakan organik dan mengurangi ketergantungan pada bahan buatan seperti pupuk, pestisida dan lainnya agro-kimia. Ia bekerja dengan alam dengan mengikuti cara fungsi alam, melindungi dan rasional menggunakan sumber daya alam, mempromosikan metode hewan bibit yang lebih baik memenuhi kebutuhan binatang ', beradaptasi dengan lingkungan lokal dan menyediakan mode operasi yang sangat beragam.

Desa Tigapanah sendiri sangat berpotensi untuk menerapkan sistem pertanian ini, salah satunya dengan pembuatan kompos, melihat banyaknya limbah ternak warga ( Kohe ) serta limbah sayuran mayur di pasar . Para taruna tani dapat mengolah limbah tersebut menjadi kompos dimana  para orang tua sedang tidak punya waktu untuk melakukannya. Selain pupuk organik ( kompos ) Dari sini juga diharapkan agar kita mampu memproduksi pestisida dan lainnya melalui pelatihan.


















Selasa, 20 Agustus 2013

Pertemuan kedua petani Muda Persada : Uji kandungan mikro organisme lokal (MOL)

 Taruna tani ‘Muda Persada’ Tigapanah sangat antusias mengikuti pelatihan ujicoba kandungan  mikro oranisme local (mol) yang di laksanakan  pada tanggal 19 agustus 2013 pukul 19.00 Wib di tigapanah. Kegiatan ini bertujuan untuk menambah wawasan dan keterampilan, sekaligus merangsang minat generasi muda untuk berusaha terutama dibidang pertanian dan peternakan.

 Untuk diketahui bahwa larutan mol mengandung unsur hara mikro( Fe, Mn, B, Mo, Cu, Zn, Cl) dan makro ( N, P, K, Ca, Mg, S)dan juga bakteri yang berpotensi sebagai perombak bahan organik , perangsang pertumbuhan, dan sebagai pengendali hama dan penyakit tanaman, sehingga mol dapat digunakan baik sebagai dekomposer , pupuk hayati dan sebagai pestisida organik terutama sebagai fungisida.

 Dari hasil ujicoba tersebut diketahui bahwa kotoran hewan  dan kompos buatan lokal mengandung mikro organism lokal (mol) yang cukup tinggi(banyak) yang tidak kalah dengan pupuk komersil dan kompos komersil sehingga aplikasi pada tanaman juga sangat baik ( selain sebagai nutrisi tanaman, juga memperbaiki struktur tanah ). 
 Dapat disimpulkan bahwa kita layak untuk memproduksi kompos kita sendiri, dengan demikian diharapkan pemuda pemudi ini mampu memproduksi kompos melalui pelatihan agar para petani tidak lagi bergantung pada pupuk kimia dan obat obatan kimia. Sesuai dengan tujuan dibentuknya kelompok ini agar petani tidak sekedar sebagai objek namun menjadi subjek yaitu pelaku usaha langsung dalam bisnis usaha tani (on farm dan off farm). Nantinya diharapkan mampu meningkatkan pendapatan dan mendorong perubahan kondisi ekonomi petani agar lebih baik. Petani berusahatani tidak hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya saja (subsisten) namun memperoleh kesempatan dan ruang untuk memajukan bisnis bidang pertanian on farm dengan strategi program pendampingan intensif petani dan off farm dengan penciptaan akses pasar hasil pertanian, Kelompok Tani Muda Tigapanah bekerja bersama para petani.

Dengan prinsip sinergisitas, Kelompok Tani Muda Tigapanah siap melakukan kerjasama dengan berbagai pihak untuk turut serta dalam membangun pertanian Indonesia terutama Tigapanah, yang sehat dan mandiri.
























Berita Pagi Ini : Miris atau Tragis ?!