Halaman

Selasa, 21 April 2015

Infrastruktur pertanian kita

Jalan keladang saya : Sepertinya tidak tersentuh pembangunan semenjak saya lahir. Mungkin semenjak indonesia merdeka atau bahkan sebelumnya ( pemerintahan hindia-belanda).

Jika jalanan jalanan  sentra pertanian seperti ini, atomatis akan menambah biaya produksi.
Petani harus mengeluarkan biaya ektra untuk mengolah dan mendistribusikan hasil pertanian.
Jika ongkos panen lebih mahal daripada hasil jual, maka petani akan  memilih untuk membiarkan tanaman di kebun tidak dipanen.

Ini akan mempengaruhi taraf hidup si petani.
Perkebunan gagal panen. Kredit bank menunggak. Anak-anak putus sekolah. Depresi. Perkebunan di tinggalkan ( lahan tidur ) atau bahkan dijual. Hidup di bawah standart. Pilihan hidup, menjadi pekerja (buruh, perantau, tki, dll) atau bahkan kriminal.

Walaupun berhasil panen. Untungnya hanya sedikit (karna biaya produksi tinggi), tidak punya cukup uang untuk di tabung. Semakin tertinggal dari pembangunan (daerah tertinggal).

Pedagang dan pemerintah akan lebih memilih import karena lebih murah daripada produksi dalam negri. Dan akhirnya harga 'Dollar' tak terbendung lagi. Ini merupakan penjajahan yang paling modern.

Sekalipun BBM di subsidi sampai GRATIS,  Biaya ( juga resiko ) yang dibutuhkan untuk melalui jalan ini(untuk mendistribusikan hasil pertanian dll) jauh lebih tinggi daripada melalui jalan beraspal dengan kendaraan yang menggunakan bbm tanpa subsidi.
Yang Kita butuhkan adalah pembangunan infrastruktur. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar