Halaman

Sabtu, 03 Oktober 2015

Kopi Luwak / civet coffee

Priceless atau percuma mahal?

  Petani kopi karo pada umumya sudah terbiasa menemukan kopi kotoran luwak diladang mereka, namun kopi yang terkenal mahal ini tidak pernah diolah atau bahkan dibiarkan begitu saja.
Hal ini mungkin disebabkan oleh karena minimnya informasi masyarakat petani akan pengolahan kopi serta tidak adanya tengkulak yang mengumpulkan /membeli  kopi  luwak ini.

Jumat, 24 Juli 2015

Love Taneh Karo


#lovetanehkaro , mengajak orang-orang terutama generasi muda karo untuk mencintai dan melestarikan taneh karo. Menjadikan tanah karo tempat yang aman , nyaman dan beradab . Menjadikan tanah karo tempat tinggal yang layak di masa depan , untuk generasi kita dimasa yang akan datang.

Jumat, 24 April 2015

Labu siam

Di kebun kami hanya tanaman labu yang bebas dari residu kimia.
Budidaya labu pada umumnya tanpa pupuk dan obat-obatan kimia. Karena jika menggunakan pupuk atau obat kimia, biaya yang dibutuhkan tidak sesuai dengan hasil jual.

Sebagai gambaran, labu siam per karung (50 kg) dihargai hanya 20rb. Jika musim panen, harga hanya 10rb.

Selasa, 21 April 2015

Pabrik pupuk

Jika saya menjadi pedagang pupuk, saya tidak akan rela menjual pupuk yang sudah disubsidi. Lebih baik saya gunakan sendiri apalagi kalau saya punya kebun jeruk yang sangat luas (apalagi punya kerabat atau sahabat yang merupakan pejabat PTPN atau lebih parah, perkebunan asing). Kalau bisa seluruh kuota untuk kabupaten karo buat saya saja.

Tapi sayangnya saja ini peternak, kenapa pemerintah tidak mensubsidi harga sapi saja. Dengan begitu pemerintah mensukseskan 3 program sekaligus atau bahkan lebih.
1. Penyediaan pupuk (organik) murah untuk petani. (Swasembada pupuk).
2. Penyediaan daging murah untuk masyarakat.(swasembada daging).
3. Silahkan anda tambah sendiri.

Kita butuh pabrik pupuk yaitu sapi. Bukan subsidi triuliunan yang entah buat siapa.

Infrastruktur pertanian kita

Jalan keladang saya : Sepertinya tidak tersentuh pembangunan semenjak saya lahir. Mungkin semenjak indonesia merdeka atau bahkan sebelumnya ( pemerintahan hindia-belanda).

Jika jalanan jalanan  sentra pertanian seperti ini, atomatis akan menambah biaya produksi.
Petani harus mengeluarkan biaya ektra untuk mengolah dan mendistribusikan hasil pertanian.
Jika ongkos panen lebih mahal daripada hasil jual, maka petani akan  memilih untuk membiarkan tanaman di kebun tidak dipanen.

Ini akan mempengaruhi taraf hidup si petani.
Perkebunan gagal panen. Kredit bank menunggak. Anak-anak putus sekolah. Depresi. Perkebunan di tinggalkan ( lahan tidur ) atau bahkan dijual. Hidup di bawah standart. Pilihan hidup, menjadi pekerja (buruh, perantau, tki, dll) atau bahkan kriminal.

Walaupun berhasil panen. Untungnya hanya sedikit (karna biaya produksi tinggi), tidak punya cukup uang untuk di tabung. Semakin tertinggal dari pembangunan (daerah tertinggal).

Pedagang dan pemerintah akan lebih memilih import karena lebih murah daripada produksi dalam negri. Dan akhirnya harga 'Dollar' tak terbendung lagi. Ini merupakan penjajahan yang paling modern.

Sekalipun BBM di subsidi sampai GRATIS,  Biaya ( juga resiko ) yang dibutuhkan untuk melalui jalan ini(untuk mendistribusikan hasil pertanian dll) jauh lebih tinggi daripada melalui jalan beraspal dengan kendaraan yang menggunakan bbm tanpa subsidi.
Yang Kita butuhkan adalah pembangunan infrastruktur.